Tokoh Adat Malompo Dorong Kemandirian Pangan Lewat Bibit Sayuran dan Sembako
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Arso Barat, 30/09/2026 – Tokoh Adat Kampung Malompo, Distrik Arso Barat, Otto Tapor, membagikan sembako dan bibit tanaman sayuran kepada masyarakat serta Jemaat Bethel Gereja Pantekosta sebagai bagian dari kegiatan sosial bertajuk “Berbagi Kasih di Hari Tani Nasional”, pada tanggal 30 Juli 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu kebutuhan warga, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya membangun kemandirian pangan melalui pemanfaatan potensi pertanian di lingkungan masyarakat.
Otto Tapor selaku Kepala Adat menginisiasi kegiatan tersebut dengan menggabungkan bantuan sosial dan pembagian bibit tanaman sebagai bagian dari upaya mendorong produktivitas pertanian lokal.
Menurut Otto, pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menghasilkan tanaman pangan yang dapat digunakan bagi kebutuhan keluarga.
Gagasan itu sekaligus menjadi bagian dari harapan membangun lumbung tani yang kuat dan mandiri di Kampung Malompo.
“Hari Tani Nasional bukan sekadar seremonial, ini adalah momentum bagi kita semua, terutama masyarakat adat, untuk kembali memperkuat tanah dan pangan kita,” ujar Otto Tapor.
Ia mengatakan pembagian bibit sayuran diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan pekarangan rumah secara produktif.
“Melalui pembagian bibit sayuran ini, saya berharap setiap pekarangan rumah tangga di Kampung Malompo bisa menjadi sumber pangan yang produktif,” katanya.
Otto menegaskan bahwa kemandirian pangan perlu dibangun dari lingkungan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang tersedia.
“Kita harus mandiri secara pangan,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu aspek penting dari kegiatan karena bantuan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan konsumsi, tetapi juga diarahkan untuk mendorong aktivitas produktif.
Dalam bahan kegiatan, tidak disebutkan jumlah penerima maupun jumlah bibit tanaman dan paket sembako yang dibagikan.
Jenis tanaman sayuran yang disalurkan juga tidak dirinci sehingga informasi tersebut tidak dapat dipastikan lebih lanjut dari bahan yang tersedia.
Meski demikian, kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari perwakilan masyarakat adat dan warga Kampung Malompo yang hadir.
Mereka menilai inisiatif tersebut menyentuh kebutuhan dasar masyarakat sekaligus memberikan dorongan terhadap pemanfaatan potensi pertanian lokal.
Dari Bantuan Sosial ke Penguatan Pertanian Lokal
Kegiatan di Kampung Malompo memperlihatkan upaya menghubungkan kepedulian sosial dengan gagasan kemandirian pangan di tingkat komunitas.
Pembagian sembako memberikan manfaat langsung kepada penerima, sementara bibit tanaman diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang dapat dikembangkan setelah kegiatan berlangsung.
Konsep tersebut menempatkan pekarangan rumah bukan hanya sebagai ruang tempat tinggal, tetapi juga sebagai bagian dari potensi produksi pangan keluarga.
Namun, sejauh informasi yang tersedia, belum terdapat data mengenai berapa banyak pekarangan yang akan ditanami atau bagaimana perkembangan tanaman setelah bibit dibagikan.
Belum tersedia pula informasi mengenai pendampingan, pemantauan hasil tanam, maupun mekanisme pengelolaan hasil pertanian yang akan dilakukan masyarakat.
Informasi tersebut penting untuk menilai keberlanjutan program apabila gagasan penguatan lumbung tani berbasis komunitas adat hendak dikembangkan dalam jangka panjang.
Otto berharap Kampung Malompo dapat menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Distrik Arso Barat dalam mengelola potensi pertanian lokal.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak semata ditempatkan sebagai agenda sosial, tetapi juga sebagai bagian dari gagasan membangun kekuatan ekonomi dan pangan masyarakat melalui sektor pertanian.
Penguatan lumbung tani berbasis komunitas adat, menurut Otto, diharapkan dapat menjadi salah satu benteng masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Gagasan itu pada akhirnya bergantung pada keberlanjutan pemanfaatan bibit, kemampuan masyarakat mengelola tanaman, serta dukungan terhadap kegiatan pertanian setelah bantuan diberikan.
Karena itu, keberhasilan inisiatif tersebut tidak hanya dapat dilihat dari terlaksananya pembagian sembako dan bibit, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat mampu mengembangkan potensi pertanian secara berkelanjutan.
Bagi Kampung Malompo, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Sementara bagi komunitas adat, keterlibatan tokoh masyarakat dalam mendorong kegiatan produktif dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat peran masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di tingkat kampung.
Pada sisi lain, masih diperlukan informasi lebih lanjut mengenai hasil nyata program tersebut agar dampaknya terhadap produksi pangan dan kondisi ekonomi masyarakat dapat diukur secara objektif.
Dengan demikian, “Berbagi Kasih di Hari Tani Nasional” di Kampung Malompo membawa dua pesan sekaligus, yakni kepedulian terhadap kebutuhan warga dan dorongan agar masyarakat mulai membangun kemandirian pangan dari lingkungan sendiri.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

