TNI Perkuat Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 48 menit yang lalu
- print Cetak

Melawi – TNI memperluas penyuluhan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke 11 kecamatan dan 169 desa Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Tim Penyuluh Karhutla Wilayah Melawi menjalankan kegiatan tersebut pada Rabu (9/9/2026) dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Brigjen TNI Luqman Arief selaku Ketua Tim Penyuluh Karhutla Wilayah Melawi memimpin langsung pelaksanaan konsolidasi dan penyuluhan.
Tim menyasar sejumlah desa terdampak karhutla, antara lain Batu Nanta, Batu Buil, Laman Bukit, Nanga Manunuk, dan Nanga Tikan.
Sementara itu, Brigjen TNI (Mar) Tri Haryanto selaku Wakil Ketua Tim menjalankan kunjungan kerja bersama Bupati Melawi dan Forkopimda.
Kunjungan tersebut menyasar Kecamatan Pinoh Selatan, Sayan, dan Tanah Pinoh Barat untuk memperkuat pencegahan serta penanganan karhutla.
Untuk menjangkau masyarakat secara langsung, TNI mengerahkan 11 tim penyuluh ke berbagai kecamatan di Kabupaten Melawi.
Penyebaran tim tersebut memungkinkan penyuluhan berlangsung lebih dekat dengan masyarakat dan kondisi lapangan di setiap wilayah.
Penyuluhan Libatkan Pemerintah dan Masyarakat
Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng unsur pemerintah daerah, Koramil, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan di tingkat wilayah.
Melalui penyuluhan, TNI mendorong masyarakat berperan aktif dalam mencegah kebakaran sejak dini.
Selain membangun kesadaran, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengetahui kondisi dan persoalan yang muncul di lapangan.
Tim juga melakukan konsolidasi dengan berbagai unsur untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karhutla.
Brigjen TNI Luqman Arief menegaskan pentingnya kerja sama lintas unsur dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Pencegahan karhutla membutuhkan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini,” ujar Luqman.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena warga berhadapan langsung dengan kondisi lingkungan masing-masing.
Sarana Pemadam Masih Menjadi Kendala
Selain memberikan penyuluhan, tim menemukan sejumlah kendala yang memengaruhi upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Keterbatasan alat pemadam menjadi salah satu persoalan yang ditemukan di tingkat kecamatan maupun desa.
Tim juga mengidentifikasi keterbatasan sarana dan prasarana pendukung dalam menghadapi potensi kebakaran.
Selain itu, akses menuju beberapa lokasi masih relatif sulit sehingga dapat menghambat jangkauan penanganan ketika kebakaran terjadi.
Temuan tersebut menjadi bagian dari evaluasi lapangan dalam pelaksanaan penyuluhan pencegahan karhutla di Kabupaten Melawi.
Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan kesiapan personel, sarana, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat.
Karena itu, TNI terus memperkuat komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi berbagai kendala tersebut.
Koordinasi tersebut diharapkan mampu mempercepat langkah pencegahan sekaligus mendukung penanganan apabila kebakaran muncul.
TNI berkomitmen melanjutkan penyuluhan dan memperkuat sinergi dengan seluruh unsur terkait di Kabupaten Melawi.
Upaya tersebut diarahkan agar potensi kebakaran dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin.
Dengan cakupan 11 kecamatan dan 169 desa, penyuluhan menjadi bagian penting dalam memperluas upaya pencegahan karhutla di wilayah Melawi.
Keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama untuk membangun kewaspadaan dan menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

