TNI–ADF Simulasikan Evakuasi Warga akibat Erupsi Gunung Raung
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 44 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Situbondo – Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Angkatan Bersenjata Australia (Australian Defence Force/ADF) menguji koordinasi evakuasi warga dalam skenario erupsi Gunung Raung melalui latihan Non-combatant Evacuation Operation (NEO) berbasis Tabletop Exercise (TTX), Sabtu (17/10/2026).
Latihan dalam rangka Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 tersebut berlangsung di Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpurmar) 5 Baluran, Situbondo, Jawa Timur.
Melalui simulasi ini, kedua negara membahas langkah penanganan situasi darurat, mulai dari penentuan wilayah terdampak hingga perencanaan jalur evakuasi untuk melindungi keselamatan masyarakat.
Skenario latihan menempatkan erupsi Gunung Raung sebagai kondisi darurat yang menuntut perencanaan cepat, ketepatan pengambilan keputusan, serta koordinasi antarpihak.
Fokus kegiatan tersebut bukan pada pengerahan evakuasi nyata, melainkan pembahasan prosedur dan pengambilan keputusan melalui simulasi di atas meja.
TNI–ADF Bahas Wilayah Terdampak dan Jalur Evakuasi
Dalam pelaksanaan NEO TTX, peserta membahas penentuan wilayah terdampak dalam radius lima kilometer dari gunung sebagai bagian dari skenario latihan.
Selanjutnya, peserta mengidentifikasi desa-desa yang menjadi prioritas evakuasi berdasarkan skenario keadaan darurat yang digunakan dalam latihan.
Pembahasan juga mencakup penetapan titik kumpul yang aman bagi warga serta penyusunan jalur evakuasi untuk mendukung proses pemindahan masyarakat dari wilayah berisiko.
Setiap tahapan menekankan pentingnya koordinasi agar perencanaan evakuasi berjalan terarah dan mengutamakan keselamatan jiwa.
Melalui diskusi tersebut, personel TNI dan ADF dapat menguji pemahaman terhadap prosedur penanganan krisis sekaligus membahas pembagian peran dalam menghadapi keadaan darurat.
Pendekatan Tabletop Exercise memungkinkan peserta mengulas berbagai kemungkinan situasi berdasarkan skenario tanpa harus melaksanakan seluruh tahapan evakuasi secara langsung di lapangan.
Dengan demikian, latihan ini menjadi sarana untuk menguji alur koordinasi, mengidentifikasi kebutuhan dalam proses pengambilan keputusan, serta menyelaraskan pemahaman terhadap langkah penanganan keadaan darurat.
Meski demikian, informasi dari Pusat Penerangan TNI belum merinci jumlah peserta, satuan yang terlibat, maupun hasil evaluasi khusus dari pelaksanaan simulasi tersebut.
Keris Woomera 2026 Perkuat Kerja Sama Pertahanan
NEO TTX menjadi bagian dari Latgabma Keris Woomera 2026 yang mempertemukan unsur TNI dan ADF dalam latihan bersama.
Selain menguji prosedur penanganan krisis, kegiatan ini membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai perencanaan evakuasi warga dalam situasi darurat.
Kedua pihak membahas penyelarasan prosedur agar koordinasi dapat berlangsung lebih efektif ketika menghadapi skenario krisis yang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur.
Dalam konteks penanggulangan bencana, perencanaan yang matang berperan penting untuk menentukan prioritas perlindungan masyarakat, mengatur pergerakan warga, serta mengurangi risiko selama proses evakuasi.
Karena itu, latihan berbasis simulasi dapat membantu peserta mengenali kebutuhan koordinasi sebelum menghadapi situasi nyata.
Namun, efektivitas prosedur tetap memerlukan pengujian, evaluasi, dan penyesuaian sesuai kondisi lapangan apabila terjadi keadaan darurat sesungguhnya.
Skenario erupsi Gunung Raung dalam latihan ini menjadi sarana untuk membahas respons terhadap ancaman bencana alam, khususnya terkait keselamatan masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.
Penentuan radius lima kilometer dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari skenario latihan, bukan pernyataan mengenai status aktivitas vulkanik terkini atau penetapan zona bahaya resmi Gunung Raung.
Pembedaan tersebut penting agar informasi latihan militer tidak menimbulkan kesalahpahaman mengenai kondisi gunung api yang sebenarnya.
Diplomasi Militer dan Perlindungan Masyarakat
Kerja sama TNI dan ADF melalui NEO TTX juga mencerminkan dimensi diplomasi militer Indonesia dan Australia di bidang pertahanan.
Melalui latihan bersama, kedua angkatan bersenjata membangun pemahaman prosedural serta memperkuat komunikasi dalam menghadapi skenario yang membutuhkan koordinasi lintas negara.
Di sisi lain, kegiatan ini menegaskan pentingnya kesiapan unsur pertahanan dalam mendukung perlindungan masyarakat ketika menghadapi keadaan darurat sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Perencanaan evakuasi yang baik membutuhkan penilaian risiko, penentuan prioritas, pemilihan lokasi aman, serta jalur komunikasi yang jelas antara unsur terkait.
Oleh sebab itu, latihan semacam ini perlu diikuti evaluasi yang terukur agar hasil pembahasan dapat menjadi bahan penyempurnaan prosedur pada kegiatan berikutnya.
Melalui kegiatan dalam rangka Keris Woomera 2026 ini, TNI dan ADF memperkuat upaya penyelarasan prosedur evakuasi serta kerja sama pertahanan, dengan keselamatan masyarakat sebagai fokus utama skenario latihan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

