Bagaimana PalmCo Menghadapi Karhutla? EWS, Ratusan Peralatan, dan Bantuan Warga
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui sistem deteksi dini, kesiagaan peralatan, mobilisasi personel terlatih, dan bantuan bagi masyarakat terdampak kemarau.
Langkah tersebut mencakup wilayah operasional Regional 3 di Riau dan Regional 5 di Kalimantan, yang menurut perusahaan menghadapi dampak kabut asap signifikan.
Di kedua wilayah itu, perusahaan menyiagakan ratusan peralatan pendukung untuk mempercepat deteksi, verifikasi, dan penanganan potensi kebakaran.
Selain mengandalkan kesiapan di lapangan, perusahaan mengintegrasikan aplikasi Early Warning System (EWS) Karhutla dengan GeoPalm Dashboard untuk memantau titik panas secara waktu nyata.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan perusahaan menggabungkan pemantauan digital, kesiapan personel, dan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menekan risiko kebakaran.
“Kami mengintegrasikan deteksi dini melalui aplikasi ‘EWS Karhutla’. Sistem ini membaca data titik panas secara real-time dan terhubung dengan GeoPalm Dashboard di pusat,” ujar Jatmiko.
Menurut dia, sistem tersebut membantu tim lapangan memverifikasi indikasi kebakaran dan mengambil langkah penanganan sebelum api membesar.
Perusahaan juga memperkuat pendekatan pencegahan melalui kebijakan zero burning atau tanpa pembakaran dalam kegiatan operasional perkebunan.
Ratusan Peralatan dan Sistem Deteksi Dini
Untuk mendukung kesiapsiagaan, PTPN IV PalmCo menyiapkan berbagai perlengkapan individu, peralatan regu, sarana pemadaman, serta fasilitas komunikasi dan transportasi.
Berdasarkan data perusahaan, Regional 3 Riau dan Regional 5 Kalimantan memiliki 594 unit perlengkapan individu untuk mendukung kesiapan personel.
Selain itu, perusahaan menyiagakan 48 unit perlengkapan regu dan 155 unit peralatan tangan untuk menunjang penanganan di lapangan.
Kesiapan pemadaman juga mencakup 80 unit pompa air beserta kelengkapannya.
Perusahaan turut menyediakan 80 unit sarana komunikasi dan transportasi untuk mendukung koordinasi serta mobilitas petugas.
Sementara itu, sebanyak 41 unit infrastruktur deteksi dini cuaca mendukung pemantauan kondisi yang berkaitan dengan potensi kebakaran.
Ketersediaan peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat respons awal terhadap indikasi kebakaran.
Namun, kesiapan sarana perlu berjalan beriringan dengan pemantauan konsisten, kemampuan personel, dan koordinasi lintas pihak agar penanganan berlangsung efektif.
Melalui EWS Karhutla, perusahaan mengolah informasi titik panas sebagai bahan pemantauan awal.
Selanjutnya, GeoPalm Dashboard menghubungkan informasi tersebut dengan pemantauan di tingkat pusat.
Jatmiko menjelaskan, tim lapangan dapat menindaklanjuti indikasi yang muncul melalui proses verifikasi langsung.
Dengan demikian, perusahaan berupaya memperpendek jeda antara munculnya indikasi dan respons petugas.
Meski begitu, data yang disampaikan perusahaan belum merinci jumlah titik panas yang berhasil diverifikasi, jumlah kejadian yang ditangani, ataupun hasil penurunan kebakaran setelah sistem tersebut berjalan.
Informasi tersebut diperlukan untuk mengukur efektivitas sistem deteksi dini secara lebih menyeluruh.
Mobilisasi Satgas dan Koordinasi Lapangan
Selain memanfaatkan teknologi, PTPN IV PalmCo meningkatkan kesiagaan melalui mobilisasi Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang memiliki sertifikasi atau kompetensi terkait.
Jatmiko mengatakan perusahaan menambah pengerahan personel terlatih untuk menghadapi risiko kebakaran.
Perusahaan juga mengalihfungsikan armada transportasi darat yang biasa digunakan dalam kegiatan perkebunan menjadi sarana pendukung pemadaman.
“Kami menerjunkan lebih banyak personel terlatih. Armada transportasi darat yang biasa digunakan untuk operasional kebun juga kami konversi menjadi alat bantu pemadaman,” kata Jatmiko.
Ia menambahkan, perusahaan mengoordinasikan pergerakan personel dan peralatan dengan pemerintah daerah serta otoritas terkait.
Koordinasi tersebut penting karena penanganan karhutla dapat melibatkan wilayah di luar perkebunan dan membutuhkan respons dari berbagai pihak.
Di sisi lain, perusahaan menempatkan kebijakan zero burning sebagai pedoman untuk mencegah penggunaan api dalam kegiatan operasional.
Pendekatan ini menitikberatkan pencegahan, bukan semata-mata pemadaman setelah kebakaran muncul.
Namun, perusahaan belum menyampaikan rincian jumlah personel yang dikerahkan, cakupan wilayah patroli, ataupun frekuensi pemeriksaan lapangan dalam keterangan yang tersedia.
Karena itu, ukuran kesiapan operasional secara terperinci masih memerlukan data tambahan.
Bantuan Air Bersih dan Masker untuk Warga
Upaya PTPN IV PalmCo tidak hanya menyasar perlindungan kawasan perkebunan.
Perusahaan juga menyalurkan bantuan sosial bagi masyarakat yang menghadapi kesulitan air bersih dan gangguan aktivitas akibat kemarau serta kabut asap.
Jatmiko mengatakan kondisi tersebut turut memengaruhi karyawan dan keluarga mereka yang tinggal di wilayah terdampak.
“Karyawan dan karyawati kami tinggal dan bekerja di wilayah terdampak. Mereka merasakan sendiri bagaimana sesaknya bernapas di tengah kepungan asap,” ujar Jatmiko.
Menurut dia, kondisi itu mendorong perusahaan memperluas respons melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), yang dipadukan dengan donasi swadaya karyawan.
Melalui upaya tersebut, perusahaan mendistribusikan bantuan air bersih dan masker kepada masyarakat.
PTPN IV PalmCo mencatat penyaluran 11,2 juta liter air bersih untuk wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Bantuan itu ditujukan untuk membantu warga memenuhi kebutuhan air selama kemarau ketika pasokan air mengalami gangguan.
Selain air bersih, perusahaan menyalurkan satu juta lembar masker.
Perusahaan memprioritaskan pembagian masker di sekolah-sekolah untuk membantu mengurangi paparan asap pada anak-anak.
Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan sosial perusahaan di tengah kondisi lingkungan yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Meski demikian, keterangan yang tersedia belum merinci periode penyaluran, jumlah penerima manfaat, maupun distribusi bantuan berdasarkan kabupaten dan kota.
Rincian itu dapat membantu publik menilai jangkauan bantuan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat.
Warga Merasakan Dampak Bantuan
Lurah Sungai Bangkong, Kalimantan Barat, Tri Marianingsih, mengatakan bantuan air bersih membantu warga ketika mereka menghadapi keterbatasan pasokan selama kemarau dan karhutla.
“Bantuan air bersih ini sangat berarti bagi warga kami yang sempat mengalami kendala pasokan air selama puncak musim kemarau dan Karhutla,” kata Tri.
Ia mengapresiasi bantuan tersebut karena menyentuh kebutuhan dasar masyarakat pada masa sulit.
Pengalaman serupa disampaikan Bima Teja, warga Kelurahan Sungai Bangkong, Pontianak.
Ia mengatakan kemarau panjang membuat sejumlah sumur warga mengering, sedangkan asap mengganggu kegiatan di luar rumah.
“Sudah beberapa waktu terakhir kami kesulitan mendapat air bersih. Asap yang tebal juga sangat mengganggu aktivitas anak-anak di luar rumah,” ujar Bima.
Menurut dia, bantuan air bersih dan masker membantu keluarganya menghadapi kondisi tersebut.
Kesaksian warga itu menggambarkan kebutuhan langsung masyarakat, terutama ketika keterbatasan air bersih berlangsung bersamaan dengan penurunan kualitas udara.
Namun, pengalaman warga tersebut tidak dengan sendirinya mewakili seluruh kondisi masyarakat di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah.
Pencegahan Berkelanjutan Menjadi Tantangan
PTPN IV PalmCo menyatakan akan melanjutkan kesiagaan personel dan peralatan untuk mengantisipasi karhutla.
Perusahaan juga berencana mendorong edukasi pembukaan lahan tanpa bakar kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Edukasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman mengenai cara membuka lahan tanpa memicu risiko kebakaran.
Pada saat yang sama, penggunaan teknologi deteksi dini perlu didukung tindak lanjut yang cepat dan evaluasi berkala.
Transparansi mengenai jumlah kejadian, hasil verifikasi titik panas, serta dampak penanganan juga dapat memperjelas capaian mitigasi perusahaan.
Sementara itu, bantuan air bersih dan masker menunjukkan upaya perusahaan merespons kebutuhan masyarakat yang terdampak kemarau dan kabut asap.
Ke depan, efektivitas langkah-langkah tersebut akan bergantung pada konsistensi pencegahan, kesiapan petugas, koordinasi dengan otoritas terkait, dan keterbukaan informasi mengenai hasil pelaksanaannya.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

