RSUD Jatisampurna Edukasi Lansia tentang Osteoporosis dan Osteoarthritis
"Adanya edukasi kesehatan yang berkelanjutan, para lansia diharapkan tetap dapat menjalani kehidupan secara aktif, produktif, dan mandiri"

Jatisampurna – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jatisampurna menggelar edukasi kesehatan bagi siswa Sekolah Lansia Kasih Untuk Negeri (Kun) di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Sabtu (14/3/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman lansia mengenai penyakit osteoporosis dan osteoarthritis yang kerap dialami pada usia lanjut, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi sejak dini.
Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan dokter spesialis ortopedi RSUD Jatisampurna, dr. Rizky Julana, Sp.OT, sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, ia menjelaskan secara komprehensif mengenai penyebab, gejala, faktor risiko, hingga langkah pencegahan dua penyakit degeneratif yang sering menyerang kelompok lanjut usia tersebut.
Kegiatan berlangsung di wilayah Kecamatan Jatisampurna dan diikuti para peserta Sekolah Lansia Kasih Untuk Negeri.
Sejumlah unsur pemerintah dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Camat Jatisampurna, Lurah Jatisampurna, serta Rm. A. Yakin Ciptamulya dari Gereja Katolik Santo Stanislaus Kostka Paroki Kranggan.
Kehadiran unsur pemerintah daerah dan tokoh masyarakat dinilai penting sebagai bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok lanjut usia yang rentan terhadap berbagai penyakit degeneratif.
Dalam pemaparannya, dr. Rizky Julana menjelaskan bahwa osteoporosis merupakan kondisi berkurangnya kepadatan tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Kondisi ini sering tidak disadari karena perkembangan penyakit berlangsung secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
“Pada banyak kasus, osteoporosis baru diketahui ketika seseorang mengalami patah tulang akibat benturan ringan atau jatuh,” jelasnya di hadapan para peserta.
Selain osteoporosis, dr. Rizky juga menjelaskan mengenai osteoarthritis, yaitu penyakit degeneratif pada sendi yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan sendi.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti nyeri sendi, kekakuan, pembengkakan, hingga keterbatasan gerak.
Menurutnya, osteoarthritis paling sering menyerang sendi yang menopang berat badan seperti lutut, pinggul, dan tulang belakang, namun juga dapat terjadi pada sendi tangan dan kaki.
Ia menambahkan bahwa risiko kedua penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia.
Faktor lain seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, kekurangan kalsium dan vitamin D, serta riwayat keluarga juga dapat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap osteoporosis maupun osteoarthritis.
Para peserta kegiatan tampak antusias mengikuti sesi edukasi.
Mereka diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan terkait keluhan kesehatan yang sering dialami pada usia lanjut, terutama yang berkaitan dengan nyeri sendi dan keterbatasan mobilitas.
Melalui kegiatan tersebut, para lansia memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya menjaga kesehatan tulang dan sendi agar tetap aktif dan mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Upaya Promotif dan Preventif
Selain menjelaskan mengenai penyakit, narasumber juga menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Beberapa upaya yang disarankan antara lain menjaga pola makan bergizi seimbang, memperbanyak asupan kalsium dan vitamin D, serta rutin melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi usia.
Aktivitas seperti berjalan kaki, senam ringan, atau latihan peregangan dinilai dapat membantu menjaga kekuatan tulang dan kelenturan sendi.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi langkah penting untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan pada tulang dan sendi.
Menurut dr. Rizky, upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Oleh karena itu, edukasi kesehatan kepada kelompok lanjut usia menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kegiatan edukasi ini juga mencerminkan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya promotif dan preventif.
Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan mengingat jumlah populasi lansia di Indonesia terus meningkat.
Dalam kesempatan tersebut, pihak RSUD Jatisampurna menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
Edukasi kesehatan dinilai menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia muda hingga memasuki masa lanjut usia.
Program edukasi bagi lansia juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat, aktif, dan mandiri di usia lanjut.
Dengan pemahaman yang memadai mengenai faktor risiko penyakit degeneratif, diharapkan para lansia dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen RSUD Jatisampurna dalam memperluas peran pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Tidak hanya memberikan layanan kuratif di fasilitas rumah sakit, tetapi juga aktif melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan di lingkungan masyarakat.
Keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut, mulai dari tenaga medis, pemerintah kecamatan, tokoh agama, hingga lembaga pendidikan lansia, menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Dengan adanya edukasi kesehatan yang berkelanjutan, para lansia diharapkan tetap dapat menjalani kehidupan secara aktif, produktif, dan mandiri.
Kesadaran untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi menjadi kunci penting agar kualitas hidup pada usia lanjut tetap terjaga dengan baik.**/adv










