Gelombang PHK Big Tech Menguat, AI Jadi Alasan Efisiensi Perusahaan
"tren ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam industri teknologi, di mana efisiensi berbasis AI mulai mengubah struktur"

Teknologi – Perusahaan teknologi global kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan terakhir, dengan kecerdasan buatan (AI) kian sering dijadikan alasan utama untuk merampingkan organisasi.
Sejumlah raksasa teknologi seperti Amazon, Meta, Pinterest, hingga Atlassian secara terbuka mengaitkan pengurangan tenaga kerja dengan kemampuan AI yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan-perusahaan tersebut mengumumkan rencana atau telah mengeksekusi pengurangan karyawan.
Narasi yang digunakan relatif seragam: perkembangan AI memungkinkan perusahaan melakukan lebih banyak pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, pada Januari lalu menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik dalam dunia kerja akibat dampak AI.
“Saya pikir tahun 2026 akan menjadi tahun di mana AI mulai secara dramatis mengubah cara kita bekerja,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari BBC, Senin (6/4/2026).
Sejak pernyataan tersebut, Meta dilaporkan telah melakukan PHK terhadap ratusan karyawan, termasuk sekitar 700 pekerja dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari penyesuaian strategi perusahaan dalam menghadapi era otomatisasi berbasis AI.
Fenomena serupa juga terjadi di perusahaan teknologi keuangan Block yang dipimpin Jack Dorsey.
Ia menilai bahwa perkembangan alat berbasis kecerdasan buatan telah mengubah cara perusahaan dibangun dan dijalankan.
Menurutnya, tim yang lebih kecil kini mampu menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dengan dukungan teknologi tersebut.
“Alat-alat intelijen telah mengubah arti membangun dan menjalankan sebuah perusahaan. Tim yang jauh lebih kecil, dengan menggunakan alat-alat yang sedang kami kembangkan, dapat melakukan lebih banyak hal dan melakukannya dengan lebih baik,” kata Dorsey.
Pada bulan lalu, Block mengumumkan rencana pengurangan hampir separuh tenaga kerjanya.
Perusahaan ini menaungi sejumlah platform digital seperti Cash App, Square, dan Tidal.
Dorsey juga memperkirakan bahwa pendekatan serupa akan diadopsi oleh banyak perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Investor teknologi Terrence Rohan menilai penggunaan AI sebagai alasan PHK memiliki dua sisi.
Di satu sisi, narasi tersebut dinilai dapat memperhalus citra perusahaan di mata publik dan investor. Namun di sisi lain, ia menegaskan bahwa alasan tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar.
“Menyebut AI akan membuat pengumuman terdengar lebih baik, atau setidaknya tidak membuat perusahaan tampak semata-mata ingin memangkas biaya,” ujar Rohan.
Ia menambahkan, penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak kini semakin signifikan.
Dalam beberapa kasus, kode yang dihasilkan oleh AI disebut telah mencapai kisaran 25 hingga 75 persen dari total produksi.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan profesi seperti pengembang perangkat lunak, insinyur komputer, dan programmer, yang sebelumnya dianggap memiliki prospek karier stabil dengan pendapatan tinggi.
Investasi Besar AI dan Tekanan Efisiensi
Di tengah gelombang PHK tersebut, perusahaan teknologi justru meningkatkan investasi dalam pengembangan AI.
Amazon, Meta, Google, dan Microsoft secara kolektif disebut berencana menggelontorkan dana hingga USD 650 miliar dalam beberapa tahun mendatang untuk memperkuat teknologi tersebut.
Amazon, misalnya, pada Februari lalu mengungkapkan rencana investasi sekitar USD 200 miliar untuk AI dalam jangka menengah.
Namun, di saat yang sama, perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk menjaga efisiensi biaya operasional.
Kepala bagian keuangan Amazon menyatakan bahwa perusahaan akan terus “bekerja sangat keras untuk mengimbangi” pengeluaran besar tersebut melalui penghematan di sektor lain, termasuk biaya tenaga kerja.
Sejak Oktober, Amazon dilaporkan telah memangkas sekitar 30.000 posisi karyawan di kantor pusat.
Meski jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total investasi AI yang direncanakan, langkah efisiensi tetap dinilai penting dalam menjaga kepercayaan investor.
Rohan menyebut perusahaan teknologi saat ini menjalankan perhitungan yang sangat presisi dalam mengelola biaya.
“Mereka bermain dengan perhitungan yang sangat teliti. Penyesuaian kecil saja dapat memberikan dampak signifikan,” katanya.
Analis lainnya, Hoecker, menilai bahwa PHK juga berfungsi sebagai sinyal kepada pasar bahwa perusahaan tetap disiplin dalam pengelolaan keuangan, di tengah besarnya biaya pengembangan AI.
“Ini menunjukkan adanya kedisiplinan. Mungkin PHK tidak secara signifikan mengurangi beban biaya, tetapi dapat membantu menciptakan arus kas tambahan,” ujar Hoecker.
Secara keseluruhan, tren ini menunjukkan pergeseran fundamental dalam industri teknologi, di mana efisiensi berbasis AI mulai mengubah struktur tenaga kerja.
Namun demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa dampak sosial dari kebijakan ini, terutama terhadap pekerja, perlu menjadi perhatian serius di tengah percepatan adopsi teknologi.**/gadgetdiva.id















