Selasa, 29 Sep 2026
Beranda » PENDIDIKAN » Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini Jadi Kunci Tekan Kesenjangan Pendidikan

Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini Jadi Kunci Tekan Kesenjangan Pendidikan

  • account_circle Tama
  • calendar_month 46 menit yang lalu
  • print Cetak

Jakarta – Kesenjangan capaian pendidikan antara anak dari keluarga kurang beruntung secara sosial ekonomi dan teman sebayanya dapat mulai terlihat sejak usia dini dan semakin melebar ketika mereka bertambah besar.

Data terbaru di Inggris menunjukkan kesenjangan capaian pendidikan mencapai sekitar 4,9 bulan pada usia lima tahun, kemudian menjadi 10 bulan pada akhir sekolah dasar dan 19 bulan pada akhir sekolah menengah.

Temuan tersebut menjadi konteks penting bagi pandangan Dr Sandra Mathers, Associate Professor di Department of Education, University of Oxford, yang menilai penguatan kemampuan bahasa anak sejak usia dini perlu mendapat perhatian lebih besar.

Dalam analisis yang diterbitkan University of Oxford pada 18 September 2026, Mathers menyebut kemampuan anak pada usia lima tahun memiliki hubungan kuat dengan perkembangan pendidikan berikutnya.

Ia mengingatkan bahwa kesenjangan yang sudah muncul ketika anak memasuki sekolah dapat semakin melebar sepanjang jenjang pendidikan.

Data Education Policy Institute (EPI) untuk Inggris memperlihatkan kesenjangan capaian pada 2025 sebesar 4,9 bulan pada usia lima tahun, 10 bulan pada akhir sekolah dasar, dan 19 bulan pada akhir sekolah menengah.

EPI juga mencatat kesenjangan pada usia lima tahun pada 2025 merupakan yang terlebar sejak 2014.

Angka tersebut bukan berarti setiap anak dari keluarga kurang beruntung akan mengalami keterlambatan dengan besaran yang sama.

EPI menggunakan status kelayakan menerima bantuan makan sekolah sebagai proksi ketidakberuntungan sosial ekonomi, sehingga ukuran tersebut tidak secara langsung mengukur kondisi kemiskinan setiap anak.

Namun, pola tersebut menunjukkan persoalan yang lebih luas, yakni kesenjangan pendidikan dapat terbentuk sebelum anak memasuki pendidikan formal dan kemudian terakumulasi pada tahap berikutnya.

Mengapa Kemampuan Bahasa Penting Sejak Prasekolah?

Menurut Mathers, bahasa bukan hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara.

Kemampuan bahasa membantu anak menyampaikan pikiran dan perasaan, membangun hubungan sosial, memahami orang lain, serta menjadi dasar bagi proses membaca dan menulis.

Karena itu, kemampuan bahasa ketika anak mulai bersekolah dapat berpengaruh terhadap bagaimana mereka mengikuti pembelajaran dan berinteraksi di lingkungan pendidikan.

University of Oxford menjelaskan bahwa anak yang memasuki Reception dengan kemampuan bahasa yang lemah menghadapi risiko kesulitan dalam literasi serta persoalan sosial dan perilaku.

Risiko tersebut lebih besar pada anak yang tumbuh dalam kondisi sosial ekonomi kurang menguntungkan.

Persoalannya, kemampuan bahasa anak ketika memasuki pendidikan usia dini tidak sama.

Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi berbagai kondisi dan pengalaman anak sebelum masuk sekolah.

Karena itu, pendekatan untuk mempersempit kesenjangan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan akademik setelah seorang anak tertinggal.

Perhatian perlu diberikan lebih awal, termasuk melalui kualitas percakapan dan interaksi antara anak dengan orang dewasa di lingkungan pendidikan.

Salah satu pendekatan yang tengah mendapat perhatian adalah Talking Time, program pengembangan bahasa untuk anak usia tiga sampai lima tahun yang dikembangkan oleh tim dari University of Oxford, UCL Institute of Education, dan LINGO.

Pilihan Editor :  Wamenko Polkam Pastikan Stabilitas Aman dalam Persiapan Pemungutan Suara Ulang

Program tersebut menggunakan kegiatan kelompok kecil yang melibatkan percakapan, bercerita, permainan bahasa, serta diskusi mengenai pengalaman sehari-hari.

Namun, fokusnya bukan hanya pada aktivitas yang dilakukan anak.

Pendidik juga mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan strategi untuk meningkatkan kualitas interaksi bahasa dengan anak.

Dalam pelaksanaannya, Talking Time dirancang sebagai program universal sehingga kegiatan kelompok tidak hanya diberikan kepada anak yang telah teridentifikasi mengalami kesulitan bahasa.

Pendekatan tersebut memungkinkan seluruh anak dalam satu lingkungan pendidikan mendapatkan dukungan, sekaligus memberi pendidik ruang untuk menyesuaikan interaksi berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.

Uji Coba Libatkan Sekitar 1.700 Anak

Program Talking Time kemudian diuji dalam penelitian skala besar di Inggris.

Evaluasi yang didanai Education Endowment Foundation (EEF) melibatkan sekitar 1.700 anak usia tiga dan empat tahun di 123 lembaga pendidikan usia dini dan dievaluasi secara independen oleh National Institute of Economic and Social Research.

EEF mencatat anak yang mengikuti Talking Time mengalami rata-rata tambahan kemajuan sekitar satu bulan dalam perkembangan bahasa dibandingkan anak di lingkungan yang tidak menggunakan program tersebut.

Pada anak yang memenuhi syarat Early Years Pupil Premium serta anak dengan English as an Additional Language, tambahan kemajuannya sekitar dua bulan.

Namun, EEF memberikan catatan penting bahwa hasil untuk kedua kelompok tersebut memiliki tingkat ketidakpastian lebih tinggi karena jumlah anak dalam analisis kelompok tersebut lebih kecil.

Dengan kata lain, temuan tersebut tidak seharusnya dibaca sebagai bukti bahwa program dapat menghapus seluruh kesenjangan pendidikan.

Dampaknya yang diukur terutama berada pada perkembangan bahasa dan menunjukkan tambahan kemajuan rata-rata sekitar satu bulan.

EEF kemudian memasukkan Talking Time ke dalam kategori Promising Programme dan menyatakan masih mengeksplorasi kemungkinan evaluasi yang lebih besar untuk menguji efektivitas program dalam kondisi yang lebih luas.

Hal ini penting karena hasil uji coba dalam kondisi penelitian tidak otomatis berarti dampak yang sama akan muncul ketika sebuah program diterapkan di semua wilayah, dengan sumber daya, pendidik, dan karakteristik anak yang berbeda.

Bukan Sekadar Menambah Sesi Belajar

Salah satu pesan penting dari penelitian tersebut adalah bahwa peningkatan kemampuan bahasa tidak semata-mata bergantung pada penambahan waktu belajar anak.

Kualitas orang dewasa yang berinteraksi dengan anak juga menjadi bagian penting.

Dalam Talking Time, pendidik memperoleh pengembangan profesional agar mampu menggunakan strategi pendukung bahasa secara lebih fleksibel.

Mereka tidak hanya mengikuti materi atau skrip kegiatan, tetapi diarahkan untuk menyesuaikan percakapan dengan minat dan kemampuan anak.

Program tersebut dalam uji coba terdiri atas sesi sekitar 15 menit dalam kelompok kecil, dua kali seminggu selama 20 minggu.

Pilihan Editor :  Polda Metro Jaya Gelar Pelatihan Pegawai Negeri Polri

Pendidik juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk membantu penerapan strategi tersebut dalam praktik sehari-hari.

Temuan ini sejalan dengan penelitian University of Oxford sebelumnya yang menemukan bahwa pengetahuan pendidik mengenai strategi untuk mendukung bahasa berkaitan dengan perkembangan kosakata dan pemahaman struktur kalimat anak usia tiga hingga lima tahun.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa bukan hanya mengetahui suatu strategi yang penting, tetapi memahami alasan mengapa strategi tersebut dapat membantu perkembangan bahasa anak.

Artinya, kualitas interaksi menjadi perhatian penting.

Percakapan yang kaya bukan sekadar membuat anak lebih banyak berbicara, melainkan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan gagasan, memahami kata dan konsep baru, serta merespons pertanyaan dan cerita secara aktif.

Kesetaraan Tidak Berarti Perlakuan yang Sama

Mathers menekankan bahwa mempersempit kesenjangan tidak selalu berarti memisahkan anak yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan intervensi tambahan.

Dalam pendekatan Talking Time, dukungan diberikan secara menyeluruh, sementara pendidik tetap menyesuaikan interaksi berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.

Prinsip tersebut berangkat dari kenyataan bahwa anak datang ke lingkungan pendidikan dengan pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan bahasa yang berbeda.

Karena itu, perlakuan yang sama kepada semua anak belum tentu menghasilkan kesempatan belajar yang sama.

EEF mencatat salah satu tantangan penerapan Talking Time dalam jangka panjang adalah kapasitas dan pergantian tenaga pendidik.

Faktor tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program pendidikan usia dini tidak hanya bergantung pada materi pembelajaran, tetapi juga pada kemampuan lembaga mempertahankan kualitas pelaksanaannya.

Bagi pembaca di Indonesia, temuan ini dapat menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana stimulasi bahasa dilakukan di rumah, kelompok bermain, taman kanak-kanak, maupun satuan pendidikan anak usia dini.

Namun, hasil penelitian di Inggris tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa program yang sama akan menghasilkan dampak identik di Indonesia.

Kondisi sosial, sistem pendidikan, bahasa yang digunakan anak, kualitas tenaga pendidik, serta lingkungan keluarga berbeda sehingga penerapan kebijakan tetap membutuhkan penelitian dan evaluasi dalam konteks lokal.

Yang lebih mendasar, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa upaya mengurangi kesenjangan pendidikan dapat dimulai sebelum kesenjangan akademik menjadi semakin besar.

“Kesempatan” anak untuk berkembang tidak hanya dibentuk ketika mereka sudah duduk di bangku sekolah.

Kualitas percakapan, pengalaman belajar, dan dukungan orang dewasa sejak usia dini juga menjadi bagian dari fondasi yang menentukan bagaimana anak memasuki proses pendidikan berikutnya.

Mathers menilai kesenjangan yang sudah terlihat pada usia lima tahun bukan berarti jalur perkembangan anak tidak dapat berubah.

Persoalannya adalah bagaimana keluarga, pendidik, dan sistem pendidikan memberikan dukungan yang tepat sejak tahap paling awal.

Dalam konteks tersebut, kemampuan bahasa bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan, tetapi menjadi salah satu fondasi penting yang dapat diperkuat sebelum kesenjangan akademik berkembang lebih jauh.

FAQ: Kemampuan Bahasa Anak dan Kesenjangan Pendidikan

Mengapa kemampuan bahasa penting bagi perkembangan pendidikan anak?
Apa hubungan kemampuan bahasa dengan kesenjangan pendidikan anak?

Anak memasuki pendidikan usia dini dengan kemampuan bahasa yang berbeda. University of Oxford menyebut anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi kurang beruntung memiliki risiko lebih besar memulai sekolah dengan kemampuan bahasa yang lebih lemah. Kesenjangan tersebut dapat berkaitan dengan kesenjangan capaian pendidikan pada tahap berikutnya.

Apa itu program Talking Time?

Talking Time adalah program pengembangan bahasa lisan untuk anak usia 3 hingga 5 tahun di pendidikan prasekolah. Program ini menggunakan aktivitas kelompok kecil yang mencakup percakapan, bercerita, permainan bahasa, serta pengembangan kemampuan pendidik dalam mendukung interaksi bahasa.

Berapa banyak anak yang mengikuti uji coba Talking Time?

Uji coba Talking Time melibatkan sekitar 1.700 anak prasekolah di 123 lembaga pendidikan usia dini di Inggris. Evaluasi tersebut dilakukan secara independen dan didanai oleh Education Endowment Foundation.

Apa hasil uji coba program Talking Time?

Anak-anak di lembaga pendidikan usia dini yang menggunakan Talking Time mengalami rata-rata sekitar satu bulan tambahan kemajuan dalam perkembangan bahasa dibandingkan kelompok pembanding. Education Endowment Foundation mengategorikan Talking Time sebagai Promising Programme.

Apakah Talking Time memberikan hasil berbeda pada kelompok tertentu?

Anak yang memenuhi syarat Early Years Pupil Premium dan anak dengan English as an Additional Language menunjukkan sekitar dua bulan tambahan kemajuan dalam perkembangan bahasa. Namun, Education Endowment Foundation menyatakan temuan kelompok tersebut kurang kuat dibandingkan hasil keseluruhan karena jumlah anak yang dianalisis lebih sedikit.

Apakah Talking Time hanya diberikan kepada anak yang mengalami keterlambatan bahasa?

Tidak. Talking Time dirancang sebagai program universal untuk anak usia prasekolah dalam suatu lingkungan pendidikan. Pendekatan tersebut bertujuan memperkuat dukungan bahasa bagi seluruh anak, sementara pendidik menyesuaikan interaksi berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.

Apa peran pendidik dalam program Talking Time?

Pendidik mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk menggunakan strategi pendukung bahasa secara fleksibel. Tujuannya agar interaksi bahasa berkualitas menjadi bagian dari praktik sehari-hari, bukan hanya dilakukan dalam sesi intervensi tertentu.

Apakah hasil penelitian Talking Time otomatis berlaku di Indonesia?

Tidak. Penelitian Talking Time dilakukan di Inggris sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap menghasilkan dampak yang sama di Indonesia. Perbedaan bahasa, sistem pendidikan, kondisi sosial, karakteristik keluarga, dan kualitas tenaga pendidik perlu dipertimbangkan dalam penerapan atau penelitian di konteks Indonesia.

Sumber: University of Oxford, Education Endowment Foundation (EEF), dan Education Policy Institute (EPI).

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Menarik Dibaca

  • Kodim 0506/Tangerang Raih Juara III Lomba Menembak Korem 052/Wijayakrama

    Kodim 0506/Tangerang Raih Juara III Lomba Menembak Korem 052/Wijayakrama

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Kota Tangerang, 19 Juni 2026 – Kodim 0506/Tangerang meraih Juara III Lomba Menembak Motivasi Korem 052/Wijayakrama di Lapangan Tembak Yonif 203/Arya Kemuning. Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangka Latihan Menembak Senapan Semester I Tahun Anggaran 2026 yang melibatkan satuan jajaran Korem 052/Wijayakrama. Tim menembak Kodim 0506/Tangerang mengumpulkan total nilai 1.178,8 dari lima prajurit yang tampil dalam […]

  • PTPN IV Tahan Panen Kopi Saat Curah Hujan Tinggi, Laba Tetap Stabil

    PTPN IV Tahan Panen Kopi Saat Curah Hujan Tinggi, Laba Tetap Stabil

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta, 7 April 2026 – PTPN IV PalmCo memilih menunda panen kopi akibat cuaca ekstrem, namun tetap mencatat laba Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026. Perusahaan mengambil langkah tersebut untuk menjaga kualitas biji kopi di tengah tingginya curah hujan yang menghambat proses pematangan buah. Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan bahwa perusahaan […]

  • Program Jembatan Garuda, Kodim Mimika Bangun Akses Warga Kaugapu

    Program Jembatan Garuda, Kodim Mimika Bangun Akses Warga Kaugapu

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Mimika – Kodim 1710/Mimika membangun jembatan di Kampung Kaugapu, Distrik Mimika Timur, Papua Tengah, melalui Program Jembatan Garuda. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya TNI Angkatan Darat memperkuat akses transportasi dan konektivitas masyarakat di Kabupaten Mimika. Kegiatan pembangunan berlangsung secara bertahap, mulai dari persiapan hingga pengerjaan konstruksi, dengan melibatkan jajaran Kodim 1710/Mimika. Komandan Kodim 1710/Mimika […]

  • Polda Jabar Hadirkan Senyum Anak Panti, Tebar Kepedulian Lewat Bhakti Sosial di Bandung

    Polda Jabar Hadirkan Senyum Anak Panti, Tebar Kepedulian Lewat Bhakti Sosial di Bandung

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • account_circle Ujang Sunarya
    • 0Komentar

    Bandung – Tangis haru dan senyum ceria anak-anak terdengar di sudut Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah, Sukajadi, Kota Bandung. Suasana penuh kehangatan tercipta saat Bidang Humas Polda Jawa Barat menggelar kegiatan Bhakti Sosial, Rabu (30/07/2025)sebagai wujud nyata kepedulian kepada anak-anak yang membutuhkan uluran kasih sayang. Kegiatan kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Kabid Humas Polda Jabar, […]

  • Kodim 1710/Mimika dan Satuan TNI Se-Garnisun Rayakan HUT Ke-80 TNI

    Kodim 1710/Mimika dan Satuan TNI Se-Garnisun Rayakan HUT Ke-80 TNI

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Timika – Suasana penuh kebanggaan dan kebersamaan terlihat di Lapangan Apel Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Minggu (5/10/2025). Kodim 1710/Mimika bersama seluruh satuan TNI se-Garnisun Timika menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Acara bertema “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju” ini dipimpin langsung oleh Letkol Inf Indra Luthfi Wibisono, […]

  • Danramil 03/Serpong Hadiri Gebyar Muharram 1448 Hijriah, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Berbagi

    Danramil 03/Serpong Hadiri Gebyar Muharram 1448 Hijriah, Perkuat Silaturahmi dan Semangat Berbagi

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Tangerang Selatan, 28 Juni 2026 – Danramil 03/Serpong Mayor Czi Hernowo menghadiri Gebyar Muharram 1448 Hijriah di Masjid Ar Rohman, Kampung Jaletreng, RT 01/RW 003, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Minggu (28/6/2026). Kegiatan keagamaan tersebut memperkuat silaturahmi, kepedulian sosial, serta sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam. Sekitar 100 jamaah […]

expand_less