Rabu, 21 Okt 2026
Beranda » OPINI » Hakordia dan Tanggung Jawab Kolektif Memutus Mata Rantai Korupsi

Hakordia dan Tanggung Jawab Kolektif Memutus Mata Rantai Korupsi

  • account_circle Tama
  • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Muhamad Dika Fredikat
Plt Sekretaris Jenderal DPP Mahasiswa Gempur Korupsi Indonesia (MAGSI)

Opini – Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh pada 9 Desember 2025 kembali menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk menegaskan sikap terhadap kejahatan korupsi.

Mahasiswa Gempur Korupsi Indonesia (MAGSI) bersama Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) menggunakan momen ini untuk memperkuat komitmen publik dalam menolak segala bentuk penyimpangan, meningkatkan integritas, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam pengawasan penyelenggaraan negara.

Hakordia merupakan agenda global yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Convention Against Corruption (UNCAC).

Dalam kerangka tersebut, negara-negara anggota, termasuk Indonesia, didorong memperkuat sistem pencegahan, penindakan, dan pendidikan antikorupsi sebagai upaya kolektif membangun tata kelola pemerintahan yang bersih.

Indonesia telah memiliki payung hukum yang kuat dalam pemberantasan korupsi. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dan perubahan melalui UU Nomor 20 Tahun 2001 menegaskan definisi korupsi sekaligus memperkuat instrumen penindakan, termasuk penyalahgunaan wewenang, gratifikasi, dan suap.

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 beserta perubahan terkait KPK memberi mandat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melakukan pencegahan, koordinasi, supervisi, hingga penindakan terhadap tindak pidana korupsi.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme menjadi dasar bagi etika aparatur negara dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas.

Seluruh perangkat regulasi ini menegaskan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa yang mengancam tata kelola pemerintahan, merusak pelayanan publik, dan memperlebar ketimpangan sosial.

Korupsi yang Mengakar dalam Sistem

Namun, kuatnya dasar hukum tidak serta-merta membuat Indonesia bebas dari korupsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus demi kasus terus mencuat, mulai dari suap perizinan, manipulasi anggaran, hingga kejahatan tata niaga yang merugikan negara dalam jumlah masif.

Pilihan Editor :  Aksi Cepat Brimob Gagalkan Tawuran Berparang di Gambir

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kurangnya aturan, tetapi lemahnya integritas individu dan rapuhnya budaya pengawasan di berbagai lini.

“Korupsi di Indonesia hari ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi penyakit sosial yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa,” tegas Muhamad Dika Fredikat.

Ia menilai bahwa korupsi terus tumbuh karena adanya ruang permisif dalam masyarakat maupun birokrasi.

Praktik pungutan liar yang dianggap “biasa”, gratifikasi yang dibungkus sebagai rasa terima kasih, hingga penyalahgunaan jabatan yang dinormalisasi telah menciptakan ekosistem yang subur bagi perilaku koruptif.

Peringatan Hakordia menjadi pengingat bahwa korupsi bukan hanya tindakan oknum yang tertangkap tangan.

Ia merupakan refleksi dari sistem yang selama ini membiarkan penyimpangan berlangsung tanpa kontrol sosial yang kuat.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan lembaga penegak hukum.

Diperlukan kesadaran kolektif, mulai dari pejabat negara, pelaku usaha, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa dan generasi muda.

MAGSI dan LAKI mendorong perubahan paradigma bahwa integritas harus menjadi identitas sosial. Pengawasan publik harus hidup dan berkelanjutan, bukan hanya reaktif ketika terjadi kasus besar.

Transparansi anggaran, keterbukaan informasi, serta keberanian melapor menjadi bagian dari gerakan sistemik untuk mempersempit ruang korupsi.

Perubahan Harus Dimulai Sekarang

Indonesia tidak akan pernah maju jika penyelenggaraan negara terus digerogoti perilaku koruptif.

Kerugian negara yang mencapai triliunan rupiah setiap tahun bukan hanya angka, tetapi hilangnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang lebih baik, dan infrastruktur publik yang aman.

Momentum Hakordia 2025 harus menjadi titik balik untuk memperkuat gerakan antikorupsi yang lebih serius, terstruktur, dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Pemberantasan korupsi bukan sekadar agenda tahunan, tetapi tanggung jawab moral dan konstitusional yang harus dijalankan setiap hari.

Pilihan Editor :  Pusjianstralitbang TNI Bahas Strategi Pertahanan Holistik, Dukung Laju Indonesia Menuju 2045

Selama budaya permisif terhadap korupsi masih melekat, selama praktik suap kecil dianggap wajar, dan selama integritas belum menjadi standar hidup, maka korupsi akan tetap menjadi ancaman terbesar bagi masa depan Indonesia.

Hakordia bukan hanya peringatan, tetapi seruan: saatnya memutus mata rantai korupsi mulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, hingga ke ruang-ruang kekuasaan.

Hanya dengan komitmen kolektif, Indonesia dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih dan masyarakat yang sejahtera.**/red

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Menarik Dibaca

  • Polda Jabar Hadirkan Layanan Konsultasi untuk Polwan: Wujud Dukungan Kesehatan Mental dan Profesionalisme

    Polda Jabar Hadirkan Layanan Konsultasi untuk Polwan: Wujud Dukungan Kesehatan Mental dan Profesionalisme

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Ujang Sunarya
    • 0Komentar

    Menurutnya, kesejahteraan psikologis anggota berpengaruh langsung terhadap performa kerja dan citra Polri di mata masyarakat.

  • Penuh Haru dan Apresiasi, Danlanal Simeulue Pamit Lewat Exit Briefing

    Penuh Haru dan Apresiasi, Danlanal Simeulue Pamit Lewat Exit Briefing

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Simeulue – Ada nuansa berbeda di Gazebo Eco Park Mako Lanal Simeulue pada Minggu (29/6/2025). Suasana haru, bangga, dan penuh kebersamaan terasa begitu kental saat Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Simeulue, Letkol Laut (P) Oyu Mulia Sukmana, S.T., M.T., M.Tr. Opsla., menyampaikan exit briefing jelang berakhirnya masa tugasnya. Didampingi sang istri, Ny. Meylina Oyu Mulia, […]

  • Lanal Banjarmasin Peringati HUT Ke-80 Jalasenastri secara Virtual

    Lanal Banjarmasin Peringati HUT Ke-80 Jalasenastri secara Virtual

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Banjarmasin – Lanal Banjarmasin memperingati HUT ke-80 Jalasenastri melalui konferensi video (Vicon) yang berlangsung di Lobby Mako Lanal Banjarmasin, Kamis (27/8/2026). Peringatan tersebut mengusung tema “Jalasenastri Bersatu, Berkarya, Berdaya, dan Berperan Aktif dalam Kepedulian Sosial Bersama Keluarga TNI Angkatan Laut Menuju Indonesia Maju.” Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar Lanal Banjarmasin untuk memperkuat solidaritas, […]

  • Panglima TNI Sahkan Doktrin Perisai Trisula Nusantara, Perkuat Transformasi Hadapi Ancaman Perang Modern

    Panglima TNI Sahkan Doktrin Perisai Trisula Nusantara, Perkuat Transformasi Hadapi Ancaman Perang Modern

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Tangerang Selatan, 2 Juli 2026 – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengesahkan Doktrin TNI “Perisai Trisula Nusantara” sebagai pedoman strategis baru menghadapi perubahan karakter peperangan modern. Pengesahan berlangsung dalam Uji Naskah III di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (2/7/2026). Panglima TNI memimpin langsung kegiatan tersebut bersama Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi […]

  • Kali Bekasi Menghitam, Pemkot Telusuri Dugaan Limbah dari Hulu

    Kali Bekasi Menghitam, Pemkot Telusuri Dugaan Limbah dari Hulu

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Firman Ugm
    • 0Komentar

    BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi menelusuri penyebab perubahan warna air menjadi hitam pada salah satu aliran sungai di wilayahnya. Pemkot Bekasi menduga perubahan tersebut dapat berkaitan dengan aktivitas pembuangan limbah dari wilayah hulu, namun dugaan itu masih harus dibuktikan melalui penelusuran dan pemeriksaan oleh instansi berwenang. Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengatakan, pemerintah […]

  • Tren Dimsum Mentai Rumahan Kian Populer, Resep Praktis Alternatif Usaha Kuliner

    Tren Dimsum Mentai Rumahan Kian Populer, Resep Praktis Alternatif Usaha Kuliner

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Nadya
    • 0Komentar

    Di sisi lain, tren makanan praktis dengan tampilan menarik dinilai sebagai bagian dari perubahan perilaku konsumsi masyarakat urban.

expand_less