TNI Semai 4,2 Ton Bahan Modifikasi Cuaca untuk Tangani Karhutla Kalsel
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 47 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kalimantan Selatan – TNI mengerahkan tiga pesawat untuk menyemai 4,2 ton bahan modifikasi cuaca guna mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Sabtu (24/10/2026).
Operasi tersebut menggunakan dua jenis bahan, yakni 2 ton natrium klorida (NaCl) dan 2,2 ton dry ice atau es kering.
TNI menjalankan penyemaian melalui tiga sortie penerbangan dengan melibatkan satu pesawat CN-295 dan dua pesawat Cassa C-212.
Pesawat CN-295 membawa perangkat console untuk menyemai natrium klorida, sedangkan dua pesawat Cassa C-212 bertugas menyebarkan dry ice.
Pengerahan pesawat dan bahan semai tersebut menjadi bagian dari operasi modifikasi cuaca untuk mendukung upaya penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan.
Melalui kegiatan ini, TNI bekerja sama dengan instansi terkait untuk membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Tiga Sortie, Dua Jenis Bahan Semai
Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca melibatkan pembagian tugas berdasarkan jenis bahan yang digunakan dan pesawat yang mengangkutnya.
Dalam operasi pada Sabtu (24/10/2026), TNI menggunakan 2 ton natrium klorida sebagai bahan semai pertama.
Satu pesawat CN-295 menjalankan penyemaian natrium klorida dengan dukungan perangkat console yang terpasang pada pesawat.
Sementara itu, TNI mengerahkan dua pesawat Cassa C-212 untuk menyemai 2,2 ton dry ice.
Kedua jenis bahan tersebut memiliki karakteristik berbeda dalam proses modifikasi cuaca. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan secara terperinci kondisi atmosfer maupun pertimbangan teknis pemilihan bahan dalam operasi tersebut.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam tiga sortie penerbangan. Istilah sortie merujuk pada satu rangkaian pelaksanaan tugas penerbangan.
Dengan demikian, operasi tersebut melibatkan tiga pesawat dan tiga sortie untuk menyebarkan total 4,2 ton bahan semai.
Meski demikian, informasi yang tersedia belum merinci durasi setiap penerbangan, lokasi penyemaian secara spesifik, ketinggian terbang, maupun luas wilayah yang menjadi sasaran operasi.
Data tersebut penting untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai cakupan pelaksanaan modifikasi cuaca di Kalimantan Selatan.
Modifikasi Cuaca untuk Mendukung Penanganan Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan yang membutuhkan koordinasi lintas instansi, terutama ketika penanganannya memerlukan dukungan operasi udara dan langkah mitigasi lainnya.
Dalam konteks tersebut, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya yang dapat mendukung penanganan karhutla melalui intervensi terhadap proses pembentukan dan distribusi hujan.
Namun, efektivitas operasi bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta parameter teknis lainnya.
Karena itu, pengerahan pesawat dan penyemaian bahan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa hujan turun atau kebakaran berhasil dikendalikan.
Keterangan mengenai operasi pada 24 Oktober 2026 belum mencantumkan data curah hujan sebelum dan sesudah penyemaian, perubahan luas kebakaran, ataupun perkembangan titik panas di wilayah sasaran.
Informasi tersebut diperlukan untuk menilai hasil operasi secara terukur dan membedakan pelaksanaan kegiatan dari dampak yang berhasil dicapai.
Selain itu, penanganan karhutla membutuhkan langkah terpadu sesuai kondisi lapangan, termasuk pemantauan kebakaran dan koordinasi antarlembaga.
TNI menyatakan operasi modifikasi cuaca tersebut berlangsung melalui sinergi dengan instansi terkait untuk mendukung penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan.
Melalui dukungan penerbangan dan penyemaian bahan, operasi itu diarahkan untuk membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Ke depan, evaluasi berbasis data cuaca dan perkembangan kebakaran diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai kontribusi operasi terhadap penanganan karhutla.
Dengan demikian, informasi mengenai hasil penyemaian, kondisi atmosfer, dan perkembangan kebakaran menjadi bagian penting dalam menilai efektivitas upaya modifikasi cuaca di Kalimantan Selatan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

