TNI Kerahkan Dua Pesawat C-212 untuk Atasi Gangguan Asap Karhutla di Palembang
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Palembang – TNI mengerahkan dua pesawat C-212 untuk mendukung operasi modifikasi cuaca di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (21/10/2026), guna membantu mengurai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu jarak pandang.
Satgas Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) menjalankan misi tersebut menggunakan pesawat C-212 bernomor A-2117 dan A-2104 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.
Dalam kegiatan itu, TNI menggunakan dry ice sebagai bagian dari upaya memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap di bawah lapisan inversi dapat terangkat dan terurai.
Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., meninjau proses pemuatan material sebelum pelaksanaan misi.
Pada kesempatan tersebut, Asep mengingatkan awak pesawat dan tim pendukung agar mengutamakan keselamatan terbang dan kerja selama menjalankan operasi.
Langkah ini menjadi bagian dari dukungan TNI terhadap penanganan dampak karhutla di Sumatera Selatan, terutama gangguan asap yang memengaruhi jarak pandang di Palembang.
Meski demikian, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca belum dengan sendirinya membuktikan bahwa konsentrasi asap telah menurun atau jarak pandang telah membaik.
Untuk memastikan dampaknya, diperlukan data pemantauan kualitas udara, jarak pandang, kondisi atmosfer, serta perkembangan asap setelah pelaksanaan misi.
Dua Pesawat C-212 Dukung Operasi Modifikasi Cuaca
Satgas Udara Lanud SMH mengerahkan dua pesawat C-212, yakni A-2117 dan A-2104, untuk mendukung operasi modifikasi cuaca pada Rabu (21/10/2026).
Kedua pesawat tersebut berasal dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, sebagaimana tercantum dalam keterangan Pusat Penerangan TNI.
Operasi ini menggunakan dry ice untuk membantu memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah yang mengalami gangguan asap akibat karhutla.
Sebelum misi berlangsung, personel menyiapkan material melalui proses pemuatan ke pesawat.
Danlanud SMH Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya meninjau proses tersebut sekaligus mengingatkan seluruh personel mengenai pentingnya keselamatan selama kegiatan penerbangan.
Pesan keselamatan itu mencakup awak pesawat dan tim pendukung yang terlibat dalam pelaksanaan misi.
Namun, keterangan yang tersedia belum memuat rincian jumlah dry ice, durasi penerbangan, jalur penyemaian, maupun koordinat wilayah operasi.
Informasi tersebut penting untuk menjelaskan cakupan kegiatan secara lebih terukur.
Dry Ice Ditujukan untuk Membantu Mengurai Asap
Dalam operasi ini, TNI menggunakan dry ice untuk memengaruhi kondisi atmosfer ketika asap terperangkap di bawah lapisan inversi.
Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu sehingga menghambat pergerakan vertikal udara.
Kondisi tersebut dapat membatasi pencampuran udara dan membuat polutan bertahan di dekat permukaan.
Melalui operasi modifikasi cuaca, pelaksana berharap perubahan kondisi atmosfer dapat membantu mengangkat dan mengurai asap yang terperangkap.
Namun, keberhasilan proses tersebut bergantung pada kondisi atmosfer setempat dan hasil pelaksanaan operasi.
Karena itu, penggunaan dry ice tidak otomatis menjamin asap akan segera menghilang atau jarak pandang langsung pulih.
Pengukuran sebelum dan sesudah operasi diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi udara secara objektif.
Data kualitas udara, jarak pandang, arah angin, serta kondisi atmosfer dapat membantu mengevaluasi hasil misi tersebut.
Tanpa data pembanding, dampak operasi terhadap tingkat gangguan asap di Palembang belum dapat dipastikan.
Penyemaian Garam Disiapkan untuk Mendukung Hujan
Selain menggunakan dry ice, operasi ini menjadi tahap pendahuluan untuk mendukung penanganan karhutla melalui penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam pada awan.
Penyemaian tersebut bertujuan membantu proses pembentukan hujan ketika kondisi awan dan atmosfer memenuhi persyaratan.
Hujan diharapkan membantu membasahi wilayah terdampak serta mendukung upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, penyemaian garam tidak selalu menghasilkan hujan karena keberhasilannya bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi meteorologi.
Keterangan yang tersedia belum menjelaskan jadwal penyemaian garam, wilayah sasaran, maupun hasil yang telah dicapai.
Dengan demikian, tahapan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari rencana dukungan penanganan karhutla, bukan bukti bahwa hujan telah turun atau kebakaran telah terkendali.
Di lapangan, penanganan karhutla tetap membutuhkan pemadaman langsung, pemantauan titik panas, pencegahan kebakaran baru, serta koordinasi antarlembaga.
Sementara itu, evaluasi operasi modifikasi cuaca diperlukan untuk menilai kesesuaian pelaksanaan misi dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan penanganan asap.
TNI melalui dukungan udara berupaya membantu penanganan dampak karhutla di Sumatera Selatan.
Adapun keberhasilan upaya tersebut dalam mengurangi asap dan memperbaiki jarak pandang di Palembang masih memerlukan data hasil pemantauan setelah operasi.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

