PTPN IV Tahan Panen Kopi Saat Curah Hujan Tinggi, Laba Tetap Stabil

Jakarta, 7 April 2026 – PTPN IV PalmCo memilih menunda panen kopi akibat cuaca ekstrem, namun tetap mencatat laba Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026. Perusahaan mengambil langkah tersebut untuk...

-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

Jakarta, 7 April 2026 – PTPN IV PalmCo memilih menunda panen kopi akibat cuaca ekstrem, namun tetap mencatat laba Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026.

Perusahaan mengambil langkah tersebut untuk menjaga kualitas biji kopi di tengah tingginya curah hujan yang menghambat proses pematangan buah.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan bahwa perusahaan tetap fokus menjaga keseimbangan antara mutu dan kinerja finansial.

“Penjualan meningkat signifikan dan kami menjaga arus kas operasional tetap sehat,” ujar Jatmiko di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

PTPN IV mencatat lonjakan penjualan bersih kopi dari Rp10,94 miliar pada triwulan I 2025 menjadi Rp21,78 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Peningkatan penjualan tersebut mendorong kinerja keuangan tetap positif meski perusahaan menahan panen raya.

Namun, perusahaan mencatat EBITDA Rp3,70 miliar, sedikit turun dibandingkan Rp3,82 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Manajemen menilai penurunan tipis tersebut masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu stabilitas keuangan perusahaan.

Cuaca Ekstrem Ganggu Produksi, Perusahaan Ubah Strategi

PTPN IV menghadapi tekanan produksi akibat curah hujan tinggi pada awal 2026 di sejumlah wilayah operasional.

Curah hujan tinggi mengurangi paparan sinar matahari sehingga tanaman kopi mengalami perlambatan proses fotosintesis.

Akibatnya, buah kopi berkembang lebih lambat dan belum mencapai tingkat kematangan optimal saat jadwal panen tiba.

Kondisi tersebut terjadi di kawasan Java Coffee Estate di lereng Dataran Ijen, Jawa Timur, dan wilayah Jambi.

Di Ijen, perusahaan mencatat curah hujan mencapai 120 milimeter dengan 21 hari hujan selama triwulan pertama.

Pilihan Editor :  Heboh Tentang Metaverse ? Mari Mengenalnya Lebih Dalam

Sementara itu, wilayah Jambi mencatat curah hujan 57 milimeter dengan 10 hari hujan pada periode yang sama.

Manajer KSO Java Coffee Estate Hastudy Yunarko menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin mengorbankan kualitas produk.

“Jika panen dilakukan terlalu cepat, kualitas seduhan kopi akan menurun,” kata Hastudy.

Ia menilai kualitas menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing kopi di pasar.
Prioritaskan Mutu, Panen Digeser ke Mei 2026

PTPN IV kemudian menggeser jadwal panen raya ke Mei 2026 untuk memberi waktu tambahan bagi buah kopi mencapai kematangan optimal.

Langkah tersebut memungkinkan cherry merah berkembang secara alami sesuai standar kualitas perusahaan.

“Kami memilih menunggu agar kualitas tetap terjaga saat produk masuk ke pasar,” ujar Hastudy.

Perusahaan menilai strategi ini sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.

Selain itu, manajemen terus menyesuaikan pola operasional agar tetap efisien dan responsif terhadap kondisi lapangan.

PTPN IV juga memperkuat manajemen risiko untuk menjaga stabilitas produksi dan kinerja keuangan.

Jatmiko menegaskan bahwa perusahaan akan terus menjaga kualitas sebagai prioritas utama.

“Kami menjaga keseimbangan antara produksi, kualitas, dan kinerja bisnis,” tegasnya.

Dengan strategi tersebut, PTPN IV berupaya mempertahankan daya saing kopi nasional di pasar domestik maupun global.

Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di tengah tekanan iklim dan dinamika industri perkebunan.

Langkah adaptif ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga kinerja meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem.

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *