Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu di Bekasi Tertekan Omzet Turun

“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, pembeli langsung berkurang. Sekarang saja sudah terasa sepi. Daya beli masyarakat sedang turun,”

Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu di Bekasi Tertekan Omzet Turun – Foto Istimewa
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

BEKASI – Lonjakan harga kedelai impor dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan pelaku usaha mikro di Kota Bekasi.

Para perajin dan pedagang tahu di kawasan Jatiasih mengaku omzet penjualan merosot hingga 30 persen akibat kenaikan harga bahan baku yang tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat.

Berdasarkan pantauan di pasar tradisional dan sentra produksi tahu, harga kedelai biji kering impor saat ini berada di kisaran Rp10.610 hingga Rp12.700 per kilogram.

Kenaikan tersebut memaksa pelaku usaha kecil menyesuaikan strategi produksi dan penjualan agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya.

Salah satu perajin tahu di Jatiasih, Didi, mengatakan lonjakan harga kedelai membuat biaya produksi meningkat signifikan.

Kondisi ini menyulitkan pedagang karena tidak leluasa menaikkan harga jual di tingkat konsumen.

“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, pembeli langsung berkurang. Sekarang saja sudah terasa sepi. Daya beli masyarakat sedang turun,” ujar Didi saat ditemui di lapaknya, Jumat (3/4/2026).

Menurut dia, konsumen utama seperti pedagang gorengan dan rumah tangga mulai mengurangi volume pembelian.

Dampaknya, perputaran barang melambat dan pendapatan harian ikut tergerus.

Selain menaikkan harga, sebagian pelaku usaha juga terpaksa memperkecil ukuran tahu sebagai langkah bertahan.

Namun, strategi tersebut dinilai tidak sepenuhnya efektif karena tetap berisiko kehilangan pelanggan.

Kondisi ini menempatkan pelaku usaha kecil pada posisi sulit.

Di satu sisi, mereka harus menanggung kenaikan biaya produksi.

Di sisi lain, pasar tidak mampu menyerap kenaikan harga secara signifikan.

Didi berharap pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Bekasi dapat segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kedelai di pasaran.

Pilihan Editor :  BANN Kota Bekasi Serukan Persatuan di Tengah Gejolak Demonstrasi

“Kalau terus begini, bukan tidak mungkin kami berhenti produksi. Omzet turun, sementara kebutuhan hidup terus naik,” katanya.

Tekanan Global dan Ketergantungan Impor

Kenaikan harga kedelai tidak hanya terjadi di tingkat lokal, tetapi juga dipengaruhi dinamika global.

Sejumlah pelaku usaha menyebut lonjakan harga minyak mentah dunia serta gangguan distribusi dari negara produsen sebagai faktor utama yang memicu kenaikan harga bahan baku tersebut.

Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Ketergantungan ini membuat harga di pasar domestik rentan terhadap fluktuasi global, termasuk perubahan biaya logistik dan nilai tukar.

Situasi tersebut berdampak langsung pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku utama.

Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, pelaku usaha berisiko mengalami penurunan produksi hingga menghentikan kegiatan usaha.

Sejumlah pedagang berharap adanya kebijakan stabilisasi harga, termasuk kemungkinan operasi pasar atau penguatan pasokan dalam negeri.

Selain itu, mereka juga mendorong pemerintah untuk memperkuat produksi kedelai lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Disperindag Kota Bekasi terkait langkah yang akan diambil untuk merespons kenaikan harga kedelai tersebut.**/ihw

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *