Beranda Berita Biang Kerok Penyebab Harga Beras Mahal
Berita

Biang Kerok Penyebab Harga Beras Mahal

Kemarin waktu kita (Bapanas) ke lapangan, ke daerah Grobogan dan lain sebagainya, itu ada 3 ribu hektare (sawah) tergenang banjir

Harga Beras Tembus Rp 16.000 Per Kilogram

Jakarta – Harga beras yang terus melambung tinggi, bukan hanya beras premium, tapi juga beras medium mengalami kenaikan. Harga beras premium naik menjadi Rp16.270 per kilogram hari ini, Kamis, 29 Februari 2024.

Sementara harga beras medium naik menjadi Rp14.230 per kg, harga ini telah melampaui harga enceran tertinggi (HET) yang di tetapkan oleh pemerintah.

Dilansir dari laman CNBC Indonesia, berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional No 7/2023, HET beras berlaku sejak Maret 2023 adalah Rp10.900/kg medium, sedangkan beras premium Rp13.900/kg untuk Zona 1 yang meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi.

Sementara, HET beras di Zona 2 meliputi Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan dipatok Rp11.500/kg medium dan beras premium Rp14.400/kg. Sementara di zona ke-3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp11.800/kg, dan untuk beras premium sebesar Rp14.800/kg.

Pendapat Bapanas

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut faktor perubahan iklim yang tidak menentu jadi penyebab tanaman padi petani gagal, hingga menyebabkan harga beras di pasaran menjadi naik.

“Kemarin waktu kita (Bapanas) ke lapangan, ke daerah Grobogan dan lain sebagainya, itu ada 3 ribu hektare (sawah) tergenang banjir. Ternyata, pas hujan kencang dia kencang banget hujannya, akhirnya banjir,” kata Ketut kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/2/2024).

“Ini ada potensi gagal. Mudah-mudahan tidak gagal ya, tapi ada potensi yang harus kita waspadai. Itu kan petani mengeluarkan ongkos yang lebih juga. Sementara di tempat lain agak tinggi, di tempat lainnya agak rendah hujannya. Nah ini efek gorila El Nino kita katakan. Dampaknya ini sudah mulai dirasakan petani,” ujarnya.

Baca juga :  Jangan Pernah Takut Menghadapi Debt Collector Bank Keliling Atau Banke

Meski begitu, Ketut menambahkan, pihaknya tetap mengacu kepada Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, yang menyatakan bulan pada Januari-Februari 2024 ini, produksi padi masih akan minus dari kebutuhan.

“Artinya memang Januari-Februari itu memang kita agak lumayan koreksinya,” tutur dia.

“Namun, di bulan Maret menurut prediksi KSA BPS kita produksinya sudah sekitar 3,5 juta ton beras. Jadi ini akan terjadi surplus. Harapan kita habis Maret, April, Mei, Juni juga terjadi surplus. Kalau itu terjadi, maka mulai lah akan terjadi penyesuaian atau koreksi harga yang ke bawah,” ujar Ketut.

“Ada beberapa petani kita yang jadi gagal panen. November atau Desember dia tanam tapi besoknya kering, akhirnya dia ngulang tanam. Dan itu pun berdasarkan KSA BPS, memang ada koreksi sedikit terkait dengan produksinya,” tuturnya.

“Nah yang selanjutnya, penyebab GKP tinggi juga adalah sewa lahan yang sudah naik. Dulu dapat Rp3 juta sekarang nggak dapat, sudah Rp12 jutaan,” lanjut Ketut.

Dan, kondisi itu diperparah harga pupuk yang naik, akibat perang yang terjadi di Ukraina.

“Itulah yang menyebabkan GKP/GKG nya naik. Kalau GKP/GKG naik, maka sudah pasti harga beras juga naik,” pungkasnya.

Editor: Slametra Pratama

Sebelumnya

Masjid di Bekasi Sediakan Makan Siang Gratis Tanpa APBN

Selanjutnya

KPPU Bentuk Tim Khusus Usut Harga Beras Mahal

Gensa Club
advertisement
advertisement